Newsflash :
Dua SKPD Baru Segera Dibentuk. TARAKAN - Berawal dari keinginan untuk menciptakan manajemen pengelolaan keuangan dan aset daerah yang baik dan patuh aturan, Pemkot Tarakan kini berupaya menyusun satuan kerja perangkat daerah (SKPD) baru yang tugasnya khus <<>> Bayi Hydrocepalus Belum Diberangkatkan - SAFRINI MAHARANI, bayi penderita hydrocepalus, hingga berita ini diturunkan belum juga mendapat pertolongan medis dengan segera. Buyut bayi itu mengatakan, pihaknya masih menunggu hingga usia cicitnya itu genap set <<>> TARAKAN – Pihak Kantor Departemen Agama (Kandepag) Kota Tarakan juga mendukung rencana penerapan saksi pidana bagi pemeluk agama Islam yang melakukan nikah di bawah tangan (nikah siri) maupun nikah dengan jangka waktu tertentu (kontrak/mut’ah) <<>> Anny Terpilih ke Amerika Serikat. Plt Pimprus Radar Tarakan, Indra dan Gunawan. TARAKAN - Anny Susilowati, pemimpin perusahaan (Pimprus) Radar Tarakan terpilih menjadi salah satu peserta International Visitor Leadership Program (IVLP) ke Amerika Serikat ( <<>> Tarakan Terbanyak Kedua Penerima Penghargaan - Raih Dua Panji dan 6 Tropi Penghargaan dari Gubernur Kaltim <<>> SKH Radar Tarakan Koran Terbesar di Utara Kaltim <<>> Selamat Datang di Situs Radar Tarakan <<>> End
Rubrik

Kolom

Berita Ekonomi
Senin, 8 Februari 2010
KEK Diserbu Puluhan Investor


JAKARTA- Minat investor untuk mengembangkan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) rupanya sangat tinggi. Buktinya, beberapa koridor KEK yang ditawarkan pemerintah langsung diserbu puluhan investor.

Menko Perekonomian Hatta Rajasa mengatakan, tahun ini pemerintah akan mengembangkan dua koridor KEK, yaitu di Sumatera Utara dan Riau. "Pengembangannya melibatkan BUMN dan swasta," ujarnya di Kantor Menko Perekonomian akhir pekan lalu.

Menurut Hatta, KEK di Sumatera Utara membutuhkan total investasi Rp 12,5 triliun, dengan PT Perkebunan Nasional (PTPN) III sebagai pengelola. Sedangkan pengembangan KEK di Riau diperkirakan membutuhkan investasi hingga Rp 20 triliun yang akan dikelola oleh swasta. "Untuk (KEK) di Merauke akan dimundurkan karena infrastrukturnya masih sangat tertinggal," katanya.

Pengembangan KEK atau klaster industri merupakan salah satu rencana aksi program 100 hari tim ekonomi Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) II. Rencananya, KEK yang akan dibangun merupakan klaster industri berbasis pertanian dan oleochemical. Ini terkait dengan posisi Indonesia yang sejak 2006 menjadi negara penghasil crude palm oil (CPO) terbesar di dunia. Tahun 2009, produksi CPO nasional mencapai 20,2 juta ton dan diprediksi pada 2020 akan mencapai 40 juta ton. Saat ini, sebagian besar CPO masih diekspor.

Untuk mengoptimalkan potensi tersebut, maka pemerintah berniat mengembangkan industri hilir kelapa sawit (IHKS) dengan mendorong pengolahan lanjutan CPO agar memiliki nilai tambah tinggi serta memberikan multiplier effect. Pemerintah menargetkan, pada 2015, 50 persen CPO bisa diolah di dalam negeri.

Karena itu, dikembangkanlah klaster industri di daerah penghasil utama CPO di Sumatera Utara, yakni di Sei mangke dan sekitarnya. Adapun KEK di Riau akan dikembangkan di daerah Kuala Enok dan Dumai.

Wakil Menteri Pertanian Bayu Khrisnamurti menambahkan, dalam pengembangan KEK, pemerintah akan menjadi inisiator dengan menyiapkan ketersediaan infrastruktur dasar seperti jalan dan pelabuhan. Selain itu, berbagai fasilitas fiskal dan non fiskal seperti bea masuk, pajak pertambahan nilai (PPN), dan pajak penghasilan (PPh), juga siap diberikan pemerintah. "Ini sebagai undangan kepada investor," ujarnya.

Skema KEK, lanjut dia, terbukti diminati investor. Bahkan, sejak dicanangkan pemerintah, hingga saat ini sudah banyak sekali investor swasta yang berminat. "Untuk yang di Dumai inisiasinya dari Wimar International. Selain itu, masih banyak sekali yang menyatakan minat," katanya.

Sementara itu, untuk KEK di Merauke, terpaksa mundur karena keterbatasan infrastruktur. Menurut Bayu, saat ini pemerintah sudah menyiapkan lahan seluas 1,62 juta hektare. "Ini cocok untuk food estate," ucapnya.

Karena masih terbatasnya infrastruktur, kata Bayu, maka kebutuhan investasi pengembangan KEK di Merauke menjadi sangat besar. Untuk inisiasi investasi awal diperkirakan dibutuhkan dana Rp 2,5- 3 triliun. Sedangkan total investasi diperkirakan mencapai Rp 60 triliun. "Saat ini sudah ada 32 investor yang tertarik," ujarnya.

Bayu mengatakan, tidak hanya investor domestik yang tertarik mengembangkan KEK berbasis food estate di Merauke, tapi juga investor asing. Tercatat, dari 32 investor yang berminat, 7 diantaranya merupakan investor asing. "Ada yang dari Timur Tengah, Jepang, Brazil, dan China (Tiongkok, Red)," sebutnya. (owi/jpnn)



Buku Tamu

tietien
8-3-2010 07:08:57

ass.

buat tim redaksi radar tarakan

 

lam kenal...

quw titin putri daerah kota tarakan tercinta

kebetulan lagi kuliah di Malang n sekarang lagi nyusun skripsi dengan tema "Pemanfaataan Lahan Pesisir Sesuai Daya Dukung Lingkungan Kota Tarakan"

ku butuh banget ni ka....berita2 ttg kerusakan lingkungan pesisir yang pernah dipublikasikan koran radar tarakan....buat data pendukung penelitian aq....

barusan quw coba akses di web radar ternyata yang ada smua berita2 terupdate....trus gak nemu masalah degradasi lingkungan pesisir...pasti ada berkas berita kerusakan lingkungan tahun2 sebelumnya....

bisa minta tolong gak kaka/mas/mba radar tarakan untuk kirimin ke email aq...berita2 kerusakan lingkungan pesisir kota Tarakan....

sangat butuhhhhh sekaliiii....

quw tunggu konfirmasi secepatx via email ato hp....

Nope quw...081334253800

Terima Kasih ^_^



hasdar
6-3-2010 19:35:05

semoga radar tarakan selalu mengapdate masalah pemekaran di sebatikWink



arin
6-3-2010 09:30:33

buat radar tarakan kalau beri informasi tolang yang benar dong ! yang demo di juata  ada 150 warga bukan 30 capek dech...!



nana
5-3-2010 10:04:42

admin tolong dong bgian X-pose nya D bkin bgus gy key.. thnk's,,, by:nana_cute



didik
2-3-2010 19:26:05

Radar tarakan jangan mempublikasikan berita asal saja, mungkin karena wartawannya dikasi uang lalu berita palsupun dimuat.

Supaya diketahui . bahwa pt.adani global mengeruk habis pulau bunyu, tidak perduli hutan maupun kebun yang cuma dibeli Rp. 1000/meter.

Areal pertambangan batu bara hanya berjarak beberapa meter dari pemukiman warga,

tak lama lagi bunyu akan tenggelam, pernyataan menhut itu sangat benar.

salam didik

 



budi
1-3-2010 22:00:59

buat radar.. tolong kalo posting berita jangan ada tang ditutupin.. khususnya ttg nunukan. thks



wisnu
1-3-2010 18:42:51

Tlng dong Radar Tarakan mengkritisi mutasi di jajaran Pemkot. Itu mutasi yg nggak masuk akal dan tidak mempertimbangkan profesionalisme. Alumni STPDN yg nota benenya disekolahkan negara dibidang pemerintahan, malah disuruh ngurusi administrasi. Sedangkan orng yang tidak ada basic pemerintahan di angkat jadi lurah. Parahanya lagi, ada PNS yang kerjaannya mabuk2 kan eh,,,malah diangkat jadi lurah.

Jadi apa dong gunanya anak-anak kita sekolahkan jika kemudian nanti pemerintah tidak menggunakan alasan profesionalisme dalam pekerjaan.



Arkas Viddy
1-3-2010 07:58:19

Mohon dimuat artikel Opini secara Online, biar kami yang berada di luar negeri juga bisa membaca artikel2 opini yang ada. Terima kasih atas dimuatnya artikel saya tentang Bailout Century....Bagaimana artikel saya tentang ACFTA (dua artikel)? Semoga cepat dimuat.

Salam



ryu grizly fark
26-2-2010 18:21:04

sekadar usul,gmna kalau koran radar tarakan juga menyediakan rubrik untuk sebatik.karna sebatik merupakan garda terdepan di tapal batas yang kurang mendapat eksploitasi media terutama oleh radar tarakan sendiri.itu akan menjadikan pembaca lebih mengetahui keadaan wilayah perbatasan sebatik.



kaisar
26-2-2010 07:39:49

Alhamdulilah IACS Indonesia Anti Corruption Soceity KOTA TARAKAN telah terbentuk semoga dengan terbentuknya IACS di kota ini bisa memberantas koropsi demi kepentingan rakyat semangat.....  kami selaku masyarakat senantiasa mendukungmu.



Index Hari Ini

    Berita Sebelumnya


    Copyright @2010 Media Link
    Gedung Biru Jl Soekarno Hatta Km 3,5 Balikpapan 76126 Kalimantan Timur - Indonesia.
    Telp (0542) 735359-732158, Fax (0542) 735242.