|
|
Kamis, 11 Maret 2010
Style Islam, Label Muslim Eropa yang Digemari
Hindari Hal-Hal Kontroversial, Tapi Tetap Kritis
TIBA-TIBA saja setiap orang yang berpapasan dengan Melih Kesmen di jalan seperti berusaha untuk menghentikan pria Jerman keturunan Turki itu. Dengan memandang ke arah sweater yang dikenakan desainer grafis berusia 34 tahun tersebut, mereka mengajukan pertanyaan seragam: dari mana dia mendapatkan baju penghangat itu. "Saat itulah saya menyadari kalau saya baru saja menemukan potensi pasar yang besar," kenang Kesmen kepada Associated Press tentang peristiwa tiga tahun silam tersebut. Kala peristiwa itu terjadi, Kesmen untuk kali pertama mengenakan sweater bertuliskan "I Love my Prophet (Aku Cinta Nabiku)". Baju pelapis untuk menahan dingin itu hasil rancangannya sendiri. Dan ketika reaksi yang didapatkannya begitu besar, pria yang berdomisili di Witten, Jerman bagian Barat, itu pun langsung meresmikan label bernama Style Islam bersama sang istri, Yeliz. Style Islam memasukkan pesan-pesan perdamaian dan toleransi dalam Islam ke dalam busana yang dirancang dengan gaya ngepop. Maka, lahirlah t-shirt bertuliskan "Terrorism has no religion (terorisme tak punya agama)." Atau, jaket berkerudung yang mencantumkan pesan "Hijab. My Right. My Choice. My Life (jilbab. Hakku. Pilihanku. Hidupku). "Kaum wanita juga banyak yang menyukai rompi kami yang bertuliskan "Mini Muslim" di bagian dada," kata Yeliz yang seperti sang suami, juga ber-background pendidikan desain grafis itu, kepada Associated Press. Ide awal Style Islam berasal dari kegelisahan Kesmen terhadap kian merebaknya sentimen anti-Islam di Eropa pada 2006. Setahun sebelumnya, dunia Islam dan Barat memang seperti baku hantam menyusul pemuatan kartun Nabi Muhammad di harian Jyllands-Posten, Denmark, pada 30 September. Di Syria dan Lebanon dan banyak negara lain yang warganya mayoritas muslim, Kedutaan Denmark diserang. Bendera Denmark, Norwegia, Belanda, Jerman, Prancis juga dibakar di Jalur Gaza. Kemarahan warga Muslim itu dibalas dengan dukungan terbuka negara-negara Eropa kepada Denmark. Pandangan miring terhadap Islam pun makin menguat di Benua Biru itu. Belgia membatasi pembangunan masjid, Prancis melarang penggunaan jilbab di tempat publik. Dan, di Belanda, politikus Geert Wilder mengumandangkan kampanye anti-Islam. "Saya gelisah melihat fenomena itu. Nah, lewat pakaian yang kami rancang, kami ingin bicara kepada siapa saja bahwa adalah suatu keniscayaan menjadi muslim saleh sekaligus memeluk kehidupan modern," jelas Kesmen yang bersama sang istri mengaku sebagai muslim taat. Karena itu, dia menghindari hal-hal kontroversial. Misalnya memasang gambar rekaan Nabi Muhammad. Apalagi, banyak juga kalangan muslim tak tak setuju dengan yang mereka lakukan. Alasannya, Style Islam tak mencerminkan keseriusan dalam mengimani Islam. Namun, Kesmen jalan terus. Dia juga tetap berusaha kritis dalam menyikapi keadaan. Contohnya, saat Israel gencar menggempur Gaza tahun lalu, Kesmen mengeluarkan t-shirt yang memuat pesan "Gaza Stop the Killing Now." Karena ingin menggapai audiens yang luas, harga produk-produk Style Islam terbilang terjangkau, setidaknya untuk ukuran Eropa. T-shirt, misalnya, dijual seharga 20 euro (sekitar Rp 250 ribu). Sedangkan jaket berkerudung dihargai 35 euro (Rp 437 ribu). Total ada 35 item hasil karya Kesmen dan tujuh desainer yang dipekerjakannya. Selaian pakaian, mereka juga memproduksi tas dan poster. Untuk tas laptop, Kesmen juga menjualnya 35 euro. Harga yang terjangkau dan gaya desain yang ngepop itulah yang membuat produk Style Islam kian digemari, tak hanya di Jerman, tapi juga berbagai negara Eropa Barat lain. Kebanyakan pembelinya adalah anak-anak muda muslim keturunan imigran. Style Islam kini juga melayani pesanan dari Turki, Amerika Serikat, dan Kanada. "Sebenarnya banyak juga order dari Mesir, Uni Emirat Arab, dan Maroko. Tapi, terus terang kami belum mampu membangun infrastruktur untuk melayani mereka," terang Kesmen.(ttg)
|
|