|
|
Kamis, 2 September 2010
Mantan PM Inggris yang Terbitkan Memoar
Menangis untuk Korban Perang Iraq
SETELAH sekitar tiga tahun meninggalkan panggung politik Inggris, mantan Perdana Menteri (PM) Tony Blair meluncurkan memoar. Sebagai pendukung invasi Amerika Serikat (AS) ke Iraq pada 2003, tokoh 57 tahun itu jelas membela perang yang resmi berakhir kemarin (1/9) tersebut. Tapi, dia menyesalkan jatuhnya banyak korban. "DARI lubuk hati saya yang paling dalam, saya berduka karena banyaknya korban yang tewas. Air mata yang sudah tertumpah pun tak mampu menggambarkan kesedihan saya," ungkap Blair sebagaimana dilaporkan Associated Press. Kalimat itu dia tulis dalam kata sambutan peluncuran memoar bertajuk A Journey di London. Pada hari yang sama, masyarakat Inggris langsung bisa mendapatkan memoar dengan sampul wajah Blair tersebut di toko-toko buku. Sayangnya, bertepatan dengan peluncuran bukunya di London kemarin, Blair tengah berada di Washington. Dia sedang menjalankan tugasnya sebagai utusan damai Timur Tengah dalam pra perundingan damai Israel-Palestina bersama PM Benjamin Netanyahu dan Presiden Barack Obama. Maklum, sejak lengser dari kursi PM pada 27 Juni 2007, dia langsung didapuk sebagai utusan damai oleh PBB. Meski sedih karena jatuhnya banyak korban dalam perang, dalam buku yang langsung menjadi best-seller dalam situs Amazon Inggris tersebut, Blair membela keputusan AS menginvasi Iraq. Meski menyesalkan banyaknya nyawa yang terenggut, dia sama sekali tidak menyesal telah melibatkan Inggris dalam perang tujuh tahun tersebut. Menurut dia, keputusan untuk mendukung invasi AS terhadap Iraq merupakan kebijakan paling tepat dalam pemerintahannya. "Berdasar apa yang kini kita ketahui bersama, saya tetap yakin bahwa membiarkan Saddam (Hussein) berkuasa saat itu merupakan ancaman terbesar bagi keamanan dunia," papar suami Cherie Booth itu dalam buku yang diterbitkan Random House tersebut. Sebab, bukan hanya masyarakat Iraq yang akan hancur di bawah kekuasaan sang mendiang diktator tersebut, tapi juga AS dan sekutu-sekutunya. Dampak Perang Iraq yang menyengsarakan rakyat Negeri Seribu Satu Malam itu, menurut Blair, bukan apa-apa dibanding penderitaan yang harus mereka tanggung jika Saddam dan anak-anaknya tetap berkuasa. "Saya sama sekali tidak menyesalkan keputusan untuk terlibat dalam perang tersebut," tegasnya. Dia berjanji menyumbangkan seluruh royalti yang diterima dari penjualan memoarnya kepada para serdadu Inggris yang cacat permanen karena Perang Iraq. Selain berbicara banyak tentang Perang Iraq, Blair memuji mantan Presiden AS George W. Bush sebagai negarawan yang cerdas, penuh integritas, dan idealis sejati. Sebaliknya, dia mengkritik penerusnya, mantan PM Gordon Brown, sebagai politikus yang temperamental. Dia bahkan menyebut Brown sama sekali tidak memiliki emotional intelligence. Karena itu, wajar jika beberapa waktu lalu berembus berita tidak sedap dari Downing Street 10 terkait tabiat Brown tersebut. Dalam memoarnya, Blair juga membeberkan hubungan pribadinya dengan Ratu Elizabeth II sepeninggal Putri Diana alias Lady Di. Pasca kecelakaan yang menewaskan Rose of England tersebut, dukungan publik Inggris terhadap kerajaan turun drastis. Saat itu, dia membujuk pemimpin monarki Inggris tersebut untuk buka suara tentang kematian Diana. "Tapi, Ratu (Elizabeth II) sedikit angkuh dan saya mungkin terlalu lancang," ungkapnya seperti dilansir Agence France-Presse. Konon, pendapatan Blair dari memoarnya berkisar GBP 4,6 juta atau setara dengan Rp 63,98 miliar. Seluruhnya dia donasikan untuk serdadu Inggris yang menjadi korban Perang Iraq. Terutama, mereka yang cacat permanen. Selain di Inggris, memoar Blair itu dipublikasikan di belasan negara lainnya. Selain berbentuk buku, memoar tersebut diterbitkan dalam wujud e-book (buku elektronik) dan versi audio yang dibacakan langsung oleh Blair.(hep/c5/dos)
|
|