|
|
Rabu, 10 Maret 2010
Awalnya Buruh, Kini Jadi Bos 15 Pekerja
Penampilannya cukup sederhana. Meskipun saat ini titelnya sudah berubah dari seorang yang kerap disapa buruh, menjadi seorang bos, namun dari kesibukan hariannya, tak terlihat kesan jabatannya sekarang. Saedi menceritatakan kisah awalnya kala menggeluti bidang batu-bata. Pada tahun 2002, ia merantau ke Tarakan untuk mengadu nasib dari kampungnya di Madura, Jawa Timur. Awalnya, meskipun berharap memperoleh pekerjaan yang enak, namun ia malah menjadi buruh batu-bata di Kampung Satu, tepatnya diwilayah Skip. Sebuah pekerjaan yang oleh kebanyakan orang dianggap remeh dan memberatkan. “Dari pengalaman selama 4 tahun itu, akhirnya tepat pada tahun 2007 saya memutuskan untuk membuka usaha sendiri, modalnya dari uang yang dikumpulkan selama bekerja di Skip dan modal kesungguhan,” terang bapak 2 anak ini. Dengan motivasi besar itu, akhirnya Saedi mendapatkan kemudahan untuk menyewa lahan kosong seluas 30 x 100 meter di daerah Aki Balak, yang tanahnya sangat cocok dibuat batu-bata. “Saat itu, mulailah saya merasa bahwa saya harus memiliki pembantu untuk mengelola lahan tersebut, akhirnya dengan modal nekat saya mengajak seorang dari Madura,” beber pria kelahiran Sepeken, Madura ini. Dengan ketekunan, kesungguhan dan kesabarannya itu, usahanya semakin berkembang. Disaat usahanya terus berkembang itulah ia pun terus menambah pekerjanya hingga dalam kurung 3 tahun ia memiliki 15 orang. “Alhamdulillah, mas,” ucapnya. Awalnya pun ia tidak memiliki rumah dan kendaraan apa-apa, namun sekarang pria yang gemar makan masakan sederhana ini telah memiliki 2 mobil dan 7 petak rumah yang terbuat dari papan sederhana. “Sebelumnya, jangankan mobil, sepeda motorpun tidak punya,” akunya. Dengan 15 pekerja itu, dalam sehari usahanya mampu mencetak minimal 2.000 bata. Dalam sebulan bisa menghasilkan minimal 60 ribu bata. Keuntungannyapun lumayan besar, setiap 60 ribu bata tersebut ia dapat meraup keuntungan bersih Rp 8 juta. “Tapi tempat usaha saya ini masih menyewa. Setiap kali membakar batu-bata, saya harus membayar Rp 2,5 juta kepada pemiliknya,” sambungnya. Dalam 1 kali membakar bata, dibutuhkan minimal 50 ribu sampai 60 ribu tumpukan bata, dan 12 tumpukan kayu. Proses pembakaran membutuhkan 3 hari, 3 malam. “Bahan bakunya sederhana saja, tanah yang dilembutkan, lalu dicetak, dikeringkan, setelah benar-benar kering dan siap dibakar, tinggal ditumpuk,” paparnya. Ia mengatakan, baginya pekerjaan apapun tidak menjadi masalah asalkan mencari dengan cara yang halal. Meskipun dengan menjadi pengusaha bata, tapi ia sanggup menghidup istri dan kedua anaknya. “Anak pertama saya sudah sekolah di SD 23, yang satunya lagi masih kecil,” jelasnya. Mulai dari awal sampai sekarang, ia tidak pernah meminjam modal, baik dari orang maupun dari pemerintah. Ia mengakui, karena dirinya tidak berpendidikan maka ia lebih memilih untuk mengembangkan usahanya dengan modalnya sendiri. “Saya ini orang tak berpendidikan, mas. Cara membuat surat minta bantuan saja saya tidak bisa. Kan kalau pinjam di Bank pun membutuhkan jaminan. Apa adanyalah, yang penting tetap berusaha,” pungkasnya. (*/jaj)
|
|