|
Newsflash :
| ||
|
Rubrik
Utama
Tarakan Bulungan Malinau Nunukan Berau Kaltim Kriminal Nasional Ekonomi Internasional Hiburan Olah Raga Kaltara Tana Tidung Politik Metro-Interaktif |
Berita Utama
Kamis, 2 September 2010 Ternyata Datar Saja Pidato SBY Soal Hubungan Indonesia-Malaysia JAKARTA- Pidato Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) tadi malam menanggapi ramainya pemberitaan terkait hubungan dengan Malaysia, tak terlalu istimewa. Padahal, untuk mempersiapkan pidato itu, butuh waktu dua hari. Pemilihan lokasi di Mabes TNI pun juga tak bermakna apa-apa. Persiapan pidato yang memakan waktu 20 menit itu sebelumnya benar-benar serius. Informasi yang dihimpun JPNN, awalnya protokoler akan mengusulkan background tulisan di belakang punggung presiden dengan bendera merah putih besar dan tulisan Mabes TNI. Selain itu, awalnya, ada usulan agar sejumlah menteri berdiri di belakang SBY. Panglima TNI dan seluruh kepala staf TNI juga sudah disiapkan untuk mengenakan baju dinas harian lengkap dengan tanda kepangkatan. “Tapi, Bapak Presiden tidak setuju. Beliau memilih seperti ini saja,” kata sumber yang menolak ditulis namanya. Karena itu, sejumlah staf lantas memasang backdrop putih besar di dinding belakang aula Gatot Subroto. Panglima dan Kepala Staf Angkatan juga batal berganti baju. Mereka hanya duduk di kanan kiri podium dengan mengenakan baju batik yang digunakan saat berbuka puasa tiga jam sebelum SBY memulai pidatonya. Sebenarnya, gelagat pidato datar-datar saja sudah terlihat sejak sore. Yakni, saat ceramah menjelang buka puasa yang diisi oleh Dirjen Bimas Islam Kementrian Agama Nasarudin Umar. Nasarudin sengaja memilih ceramah tentang cara-cara yang ditempuh Nabi Muhammad dalam berhubungan dengan bangsa lain. Nasarudin menceritakan Nabi yang lebih mendahulukan jalan diplomasi dibanding perang. Nasarudin mengingatkan tentang perjanjian hudaibiyah, atau pakta antara kaum muslim dengan suku Quraisy untuk tidak saling menyerang. Perjanjian tersebut kelak mengantarkan tentara Muhammad untuk menaklukkan Makkah tanpa pertumpahan darah. Nasarudin juga bercerita tentang cara Nabi berdiplomasi. Salah satunya, dengan berkirim surat kepada raja-raja bangsa lain. “Seperti nabi-nabi terdahulu, Muhammad berkirim surat kepada pemimpun bangsa lain dalam berdiplomasi,” kata Nasarudin, seakan ingin mengingatkan cara SBY berkirim surat kepada PM Malaysia Najib Tun Razak. SBY tampak takzim mendengarkan ceramah Nasarudin dan mengangguk-angguk. Beberapa kali mantan Menkopolhukam itu juga berbisik pada mantan Pangab (Panglima ABRI) Try Sutrisno yang duduk tepat di sebelah kanan SBY. Usai berbuka, SBY melakukan sidak (inspeksi mendadak) lokasi pidato pada pukul 20.15. Saat datang, wajahnya tampak sangat serius seakan-akan siap mengumumkan siaga perang pada Malaysia. Sejumlah prajurit TNI yang mengamankan lokasi juga disapa SBY. “Siap, siap, siap,” jawab prajurit-prajurit itu dengan sikap sempurna. Pidato SBY memang sudah ditunggu-tunggu para prajurit TNI sejak beberapa hari lalu. JPNN yang sejak pukul 14 kemarin sudah berada di Mabes TNI Cilangkap berbincang dengan belasan perwira menengah sembari menunggu waktu berbuka puasa tiba. Rata-rata mereka berharap pidato SBY akan tegas dan keras. “Kita ini sebenarnya sudah gemas dengan Malaysia,” kata seorang perwira menengah TNI Angkatan Laut. Karena itu, hati para perwira itu bungah luar biasa saat mendengar informasi bahwa SBY akan bicara di Mabes TNI. “Kalaupun nanti Bapak Presiden memerintahkan kita siaga di perbatasan 24 jam pun kita sangat siap,” katanya. Seorang perwira lain dari AD menuturkan, jika masalah dengan Malaysia tak hanya terjadi di laut. “Coba Mas ikut kita patroli seminggu di perbatasan darat. Banyak sekali problem yang kita hadapi,” katanya. Dia juga berharap SBY bisa menyaingi pidato PM Najib Razak yang seakan-akan memberi ultimatum pada Indonesia agar tidak macam-macam. “Apa Malaysia itu tidak berpikir jernih, kekuatan kita ini jauh lebih hebat. Mau berhadapan satu lawan satu jelas menang kita,” katanya berapi-rapi. Namun, saat ditemui lagi tadi malam usai pidato SBY, perwira-perwira itu tampak kuyu dan lesu. “Kok datar sekali ya,” katanya sembari menghirup kopi hitam. “Rasanya, agak ada yang kurang. Tapi, ya kita ini prajurit apa perintah pimpinan harus jawab siap. Ditugaskan diam, ya diam,” katanya. Perwira menengah AU yang ditemui JPNN usai pidato juga menyampaikan kekecewaan pribadinya. “Terus terang bayangan kita pidato bapak Presiden lebih menggertak, tapi ya sudahlah,” katanya. Namun, Panglima TNI Jenderal Djoko Santoso menganggap pidato SBY sudah tepat dan proporsional. “Pesannya tadi jelas sekali. Kita harus tetap jaga kedaulatan tapi mengedepankan diplomasi,” kata Djoko yang tadi malam mengenakan baju batik warna abu-abu. Tapi kok ada kesan inferior (rendah diri) pada Malaysia ? Ditanya seperti itu, Djoko meradang. “Ah siapa bilang. Tidak ada inferior. Simak dong pidato bapak presiden dengan baik,” kata alumni Akmil 1975 itu. Dari catatan JPNN, pidato SBY justru terkesan memuji-muji pemerintah Malaysia. Dari 20 menit pidato, sekitar 11 menit digunakan SBY untuk mengingatkan hubungan mesra yang sudah lama terjalin antara Indonesia dengan Malaysia. SBY juga tak segan menyebut relasi Indonesia dengan Malaysia sebagai hubungan sejarah, budaya dan kekerabatan yang paling erat dibanding negara-negara lain. Lantas, selama sekitar sembilan menit SBY gunakan untuk mengulas kembali penanganan pemerintah atas insiden penangkapan tiga petugas Kementrian Kelautan dan Perikanan di perairan Bintan oleh petugas patroli Malaysia. Sedangkan sisanya, SBY menegaskan solusi yang harus ditempuh kedua negara agar insiden perbatasan serupa tidak terjadi lagi. SBY mengatakan, insiden yang dipicu masalah perbatasan harus diselesaikan secara cepat, tegas dan tepat, karena berkaitan dengan kepentingan nasional. Presiden mengatakan, memelihara hubungan baik dengan negara sahabat, apalagi dengan Malaysia, sangat penting. Tetapi, tentu tetap tidak bisa mengabaikan kepentingan nasional, apalagi jika menyangkut kedaulatan dan keutuhan NKRI. “Dalam kaitan ini, saya telah mengirim surat kepada Perdana Menteri Malaysia, yang intinya menyampaikan keprihatinan yang mendalam atas terjadinya insiden tersebut. Saya juga mendorong agar proses perundingan batas maritim dapat dipercepat dan dituntaskan,” kata SBY. Presiden juga meminta klarifikasi atas kebenaran informasi mengenai petugas KKP yang diduga mengalami perlakuan tidak patut dari otoritas Malaysia. “Melalui jalur diplomasi, diperoleh informasi bahwa Pemerintah Malaysia saat ini sedang melakukan investigasi atas masalah perlakuan terhadap tiga petugas KKP tersebut,” katanya. Presiden juga mengingatkan agar masyarakat senantiasa menjaga citra dan jatidiri kita sebagai bangsa yang bermartabat dalam menjalin hubungan internasional. “Sebagai Kepala Negara dan Kepala Pemerintahan, saya juga merasakan apa yang dirasakan oleh rakyat Indonesia. Saya sungguh mengerti keprihatinan, kepedulian, bahkan emosi yang saudara-saudara rasakan,” katanya.
JADI PILIHAN TERAKHIR Opsi konfrontasi dengan Malaysia memang harus menjadi pilihan terakhir bagi pemerintah. Sebab, jika upaya konfrontasi dipilih, bukan mustahil Indonesia akan kalah. Peneliti Puslit Kemasyarakatan dan Kebudayaan (PMB) LIPI dan The Indonesian Institute Jaleswari Pramodhawardani mengatakan, warga Indonesia bisa saja bermodal semangat dalam kampanye ganyang Malaysia. Tetapi, jika dikalkulasi secara realistis, Malaysia memiliki kekuatan militer yang selevel di atas Indonesia. Apalagi, Malaysia adalah anggota aliansi Five Power Defence Arrangements (FPDA) bersama dengan Singapura, Selandia Baru, Australia, dan Inggris. “Jika Malaysia mengaktifkan klausul bahwa serangan atas satu negara anggota akan merupakan serangan terhadap anggota aliansi lainnya, Indonesia bisa dikeroyok empat negara lain,” kata Jaleswari. Jika Inggris terlibat dalam konflik, persoalan akan meluas. Sebab, Inggris merupakan anggota Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) yang juga punya klausul sama. Di sisi lain, walaupun teknologi persenjataan Malaysia lebih modern namun menang konfrontasi bersenjata tidak hanya ditentukan oleh teknologi dan jumlah alutsista. “Masih banyak elemen yang menentukan kemenangan perang, seperti kepemimpinan, strategi, jumlah pasukan, dan kondisi psikologis prajurit,” kata dia. Jaleswari merekomendasikan agar pemerintah RI memberlakukan shock therapy kepada Malaysia. Bentuknya dengan memberlakukan ancaman pemutusan kerjasama di bidang ekonomi atau tindakan yang lebih keras di perbatasan Malaysia. “Selain itu Indonesia juga bisa menggunakan forum ASEAN untuk menyelesaikan perselisihan antar anggotanya tersebut,” ujar dia. (sof/rdl/zul/kum)
, Viagra online pharmacy, ycfa, Viagra, vbddtr, Viagra online, 214999, # Dikirim oleh Buy | 9-2-2012 18:33:26
mobile spy android 2.2 mobile spy android 2.2 http://www.formspring.me/itperriber # Dikirim oleh mrxwyHZDQaA | 9-2-2012 18:32:54
tramadol saturday delivery , cheap Tramadol free fedex shipping , overnight tramadol cheap saturday , # Dikirim oleh tramadol | 9-2-2012 18:32:49
No Prescription Required Zyban Smoking or Meridia 15 Uk or # Dikirim oleh ZlqNKOMEBtJYuYgHHb | 9-2-2012 18:32:46
mobile spy android 2.2 mobile spy android 2.2 http://www.formspring.me/itperriber # Dikirim oleh nwImBRVZf | 9-2-2012 18:32:46
ingredients tramadol , cat pain tramadol , buy tramadol tension headache ,
# Dikirim oleh no | 9-2-2012 18:32:20
Komentar Anda mengenai berita "Ternyata Datar Saja"
|
Buku Tamu
Index Hari Ini
Berita Sebelumnya
|
|
Copyright @2010 Media Link Gedung Biru Jl Soekarno Hatta Km 3,5 Balikpapan 76126 Kalimantan Timur - Indonesia. Telp (0542) 735359-732158, Fax (0542) 735242. |
||