2-2-2010
Jarang Ganti Pembalut Rawan Shock

PENGGUNAAN tampon alias pembalut ternyata mengundang penyakit. Itu terjadi bila tampon tersebut berdaya serap tinggi dan digunakan dalam waktu lama. Tampon menjadi tempat yang baik untuk perkembang biakan bakteri. Bakteri tersebut dapat masuk ke tubuh manusia sehingga terjadi toxic shock syndrome (TSS).
''Memang, belum diketahui secara pasti tampon mengakibatkan TSS. Diperkirakan, tampon mempermudah bakteri masuk bila tak sering diganti,'' jelas dr Heru Wiyono SpPD.
TSS, lanjut spesialis penyakit dalam dari RS Husada Utama Surabaya itu, pertama dilaporkan pada 1978 stebagai penyakit anak-anak. Sekitar 1980-an, TSS kembali merebak setelah beberapa wanita muda yang sedang menstruasi mengalami sindrom tersebut.
''Penelitian epidemiologi mendapatkan hubungan antara penyakit ini, menstruasi, dan pemakaian tampon berdaya serap tinggi,'' terangnya.
Namun, penderitanya tidak hanya wanita. Anak-anak, bahkan pria dapat mengalaminya. Sangat mungkin itu akibat penggunaan perban luka dari bahan yang berdaya serap tinggi seperti pada tampon.
''TSS disebabkan enterotoksin. Yakni, pengeluaran zat berbahaya dari bakteri Staphylococcus aureus dan Streptococcus grup A,'' papar Heru.
Gejala TSS beragam, bergantung bakteri penyebabnya. Bila disebabkan bakteri Staphylococcus aureus, umumnya penderita yang semula sehat tiba-tiba demam tinggi, penurunan tekanan darah, lesu, dan gangguan kesadaran. Muncul kemerahan seperti gambaran sunburn pada bibir, mata, mulut, telapak tangan, dan kaki. ''Pengelupasan kulit pada tubuh kemerahan terjadi pada 10-4 hari setelah serangan,'' terang alumnus FK Unair tersebut.
Bila penyebabnya bakteri Streptococcus pyogenes, penderitanya sudah mengalami gangguan kulit sebelumnya. Misalnya, gejala infeksi bakteri jenis lain, kemudian diikuti penurunan tekanan darah, lesu. Namun, tak sampai muncul kemerahan seperti pada infeksi bakteri Staphylococcus aureus. ''Jarang penderita TSS yang disebabkan serangan bakteri Streptococcus pyogenes,'' ujar Heru.
Penderita biasanya diberi terapi antibiotik. Pasien disarankan menjalani rawat inap di rumah sakit agar pengobatan lebih optimal. Hal terpenting lainnya, penderita sering mengganti pembalut yang dipakainya tiap 4-8 jam. Meski, pembalutnya berdaya serap tinggi. Cara itu dapat mengurangi kemungkinan menderita TSS. (ai/nda)