|
|
4-2-2010 Atasi Kebiasaan si Kecil Ngompol MENGATASI kebiasaan mengompol pada anak bukanlah hal yang mudah. Diperlukan kerja sama antara orangtua, anak, dan dokter. Selain itu, perlu kebijaksanaan, kesabaran, dan pengertian orang tua.
Begitu banyak keluhan dari para orangtua yang mengkhawatirkan dengan kebiasaan mengompol anak mereka. Apalagi, anak tetap mengompol setelah melewati usia 6–7 tahun. Tentunya akan menjadi suatu pertanyaan besar bagi orang tua.
Sebenarnya apa itu mengompol? Mengapa hal itu terjadi dan bagaimana melatih mereka agar tidak lagi mengompol?
Mengompol istilah kedokterannya adalah enuresis, yaitu mengeluarkan air seni secara tidak sadar saat tidur pada usia yang seharusnya sudah dapat mengendalikan keinginan buang air kecil. Terkadang definisi mengompol juga digunakan untuk menyebut anak yang gagal mengontrol pengeluaran urine saat mereka dalam keadaan terjaga.
Sebenarnya, pada remaja dan orang tua mengompol juga sering terjadi. Namun bagi anak, mengompol sering merupakan hal yang sangat memalukan. Sedangkan bagi orang tua, hal ini dapat merupakan pengalaman yang menjengkelkan.
Lebih dari 50 juta anak-anak di seluruh dunia berusia 5–15 tahun masih mengompol. Satu dari empat anak tetap mengompol saat usia mereka 3,5 tahun. Sedangkan pada usia lima tahun, satu dari lima anak masih ngompol di tempat tidur dan pada usia enam tahun turun menjadi satu dari 10 anak. Biasanya enuresis akan berhenti ketika anak mencapai usia pubertas. Anak laki-laki lebih banyak yang mengompol dibanding anak perempuan.
“Ini merupakan masalah tersembunyi masa kanak-kanak karena orang cenderung untuk tidak berbicara tentang hal itu di luar rumah, sehingga sebagian besar anak-anak berpikir mereka satu-satunya yang dengan masalah,” kata dokter anak dari Washington DC, Amerika Serikat dan penulis buku ”Waking Up Dry” dr Howard Bennett.
Bennett menyebutkan jenis mengompol dibagi dua. Mengompol primer yakni mengompol sejak bayi dan mengompol sekunder yakni kembali mengompol setelah anak tidak pernah mengompol lagi selama minimal enam bulan. Penyebab mengompol primer disebabkan adanya keterlambatan proses pematangan sistem saraf pada anak, di mana adanya ketidakmampuan otak untuk menangkap sinyal yang dikirimkan kandung kemih, gangguan hormonal, kelainan anatomi.
Misalnya kandung kemih yang kecil dan tidur yang sangat dalam sehingga anak tidak terbangun pada saat kandung kemih sudah penuh. Sedangkan penyebab dari mengompol sekunder bisa karena infeksi saluran kemih, gangguan metabolisme (kencing manis usia dini), gangguan saraf tulang belakang, tekanan yang berlebihan pada kandung kencing, terutama disebabkan gangguan pengeluaran kotoran sehingga akumulasi kotoran pada usus besar akan menekan kandung kencing.
Bahkan, keadaan stres juga dapat memicu terjadinya mengompol sekunder. Memang dahulu kebiasaan mengompol dianggap sebagai masalah psikologis. Namun, sekarang diketahui bahwa faktor biologis memegang peranan lebih besar. Dapat dipastikan juga, hal tersebut menurun dalam keluarga.
Lebih dari 75 persen anak-anak yang mempunyai orang tua dengan masalah mengompol, juga akan mempunyai masalah yang sama.
“Cerita soal masalah genetika ini kepada anak akan membuat hatinya lebih baik,” saran Bennett.
Mengompol dapat juga merupakan gejala dari suatu penyakit serius seperti kencing manis atau infeksi saluran kemih, terutama bila terjadi pada anak yang sebelumnya tidak pernah mengompol. Mengompol bukanlah merupakan kesalahan anak. Sayangnya, beberapa orangtua masih berpikir bahwa mengompol berasal dari kurangnya disiplin, dan dapat disembuhkan dengan hukuman.
Hal ini, terang Bennett, sangat jauh dari kebenaran. Penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 25 persen orangtua menghukum seorang anak atau menunjukkan ketidaksetujuan yang signifikan saat anak mengompol karena mereka pikir itu kesalahan anak.
Yang harus dilakukan orang tua jika anak mengompol adalah bersikaplah sewajarnya, jangan menunjukkan rasa jengkel, marah, atau bahkan panik.
Bicarakan baik-baik dengan si anak. Ada banyak kasus di mana anak berhenti mengompol setelah diajak bicara dari hati-hati. Beri dukungan kepada anak, ini adalah tindakan terpenting.
Jangan sekali-kali mempermalukan anak atau membandingkan dengan anak lain, malah bila si anak berhasil tidak mengompol berilah dia hadiah dan pujian tentang keberhasilannya di hadapan banyak orang, agar dia semakin termotivasi.
Minta anak Anda mengganti seprei serta pakaian tidurnya pada malam hari, bila anak tersebut sudah bisa melakukannya. Atau letakkan sebuah alas karet yang berlapiskan kain di dekat tempat tidur, sehingga anak dapat menutupi seprei yang dibasahinya. Lalu, pasanglah jam alarm yang akan berbunyi 2–3 jam setelah anak tertidur, jadi dia dapat terbangun untuk pergi ke kamar mandi.
Selain itu, pastikan anak Anda buang air kecil sebelum ke tempat tidur. Doronglah anak untuk mengikuti instruksi dari seorang dokter, seperti latihan pelemasan kandung kemih atau latihan menahan keluarnya air seni atau latihan modifikasi perilaku. Kalau perlu, belilah sebuah alarm antimengompol yang cocok untuk anak berusia lima tahun ke atas.
Alarm ini memiliki sensor kelembapan yang dikenakan langsung pada pakaian dalam. Pada tetes cairan pertama, sebuah bel akan mendengung, membangunkan si anak. Secara berangsur- angsur anak belajar untuk bangun ketika mereka merasa ingin buang air kecil.
Yang perlu juga diperhatikan oleh orang tua adalah, mengompol ini bisa sembuh sendiri. Seorang anak pengompol membutuhkan kesabaran, semangat, ketelatenan, dan keyakinan dari orangtua bahwa masalah tersebut hanya sementara. Biasanya antara usia 7–12 tahun sering terjadi kesembuhan, dan sedikit saja anak yang terus mengalaminya sampai remaja.
Satu hal menarik, pemberian air susu ibu (ASI) dapat mencegah mengompol yang berkelanjutan pada anak. Sebuah studi yang diterbitkan Journal of the American Academy of Pediatrics menyatakan bahwa bayi yang tidak minum ASI lebih cenderung mengompol dibanding bayi yang diberi ASI.
Penelitian dari Robert Wood Johnson Medical School, New Jersey, Amerika Serikat menyatakan selain kaya akan gizi yang penting bagi pertumbuhan bayi, ASI juga mengandung asam lemak yang bisa memperbaiki dan mempercepat pertumbuhan otak, sementara mengompol itu sendiri terjadi karena terhambatnya pertumbuhan syaraf otak (delayed neurodevelopment). Dari hasil studi yang dilakukan pada 55 anak usia 5–13 tahun yang masih mengompol dan 117 mereka yang tak pernah mengompol, menunjukkan persentase mengompol pada anak yang mengonsumsi susu formula sekitar 81 persen, sementara mereka yang secara rutin mendapat ASI hanya 45 persen.
Namun, yang paling mengagumkan dalam studi ini adalah bayi yang mengonsumsi baik susu formula maupun susu ibu justru mengalami hasil yang sama dengan bayi yang hanya mendapat susu formula tanpa ASI. Selain mencegah mengompol, ASI diketahui juga manjur untuk menurunkan risiko diare, infeksi pernapasan, infeksi telinga, dan infeksi lain yang terjadi pada bayi.(tty/okz)
|
- Berebut Tafsir di Muhammadiyah
- Diet, Perlukah Minum Susu?
- Migren, Bukan Sakit Kepala Biasa
- Anak Kejang Jangan Dianggap Remeh
- Jaga Kulit Segar Tanpa Kerutan
- Tips Tangkal Penyakit Musim Hujan
- Kehilangan Indera Penciuman Gejala Awal Alzheimer
- Tanda Anda Kecanduan Seks
- Tips Anti Selingkuh Bagi Wanita
- Ketiak 'Gundul', Risiko Kesehatan Mengancam
- Normalkah Bayi Sering BAB?
- Jangan Sepelekan Bau Badan
- Lupakan Obat Luar untuk Basmi Jerawat
- Hindari Kopi Saat Malam
- Baju Baru Jangan Langsung Dipakai
- Jarang Ganti Pembalut Rawan Shock
- Lima Macam Makanan Penajam Penglihatan
- Atasi Kebiasaan si Kecil Ngompol
- Mau Greng? Ya Olahraga...!
- Bantu Berkompromi dengan Jerawat
- Kaitan Virginitas dengan Kanker Serviks
- Polusi Udara Turunkan Kecerdasan Otak
- Jagalah Kesehatan Punggung Anda
- Ingin Sperma Subur?
- Tahi Lalat Bisa Berubah, Tergolong Kanker Kulit
- Soda Berlebih Picu Kanker Pankreas
- Lama Waktu Tidur Ideal
- Sukrosa Penyebab Utama Keroposnya Gigi Anak
- Pengaruh Seks pada Kehamilan
- Rhubarb Panggang Ampuh Melawan Kanker
- Es Kopi Picu Kanker
- Hipnotis, Baik atau Buruk?
- Emfisema Dapat Timbulkan Kematian
- Sikat Lidah Cegah Bau Mulut
- Diet Hipertensi, Kolesterol, dan Asam Urat
- Pilih Makanan Rendah Kolesterol
- Tips Mencegah Selulit
- Lensa Kontak Tak Bersih Sebabkan Keratitis
- Awas Penyakit Jantung Mengintai!
- Bahaya Asap Rokok Mengintai
- Deteksi Kanker Leher Rahim
- Bahaya Mendengkur
- Obesitas dan Depresi Berhubungan Erat
- Susu Formula Dilarutkan dengan ASI, Bolehkah?
- Idap Disfungsi Ereksi Plus Penyakit Jantung Bisa Fatal
- Kanker Kolorektal Incar Usia Muda
- Hebat, "Dedek" Sudah Bisa Tengkurap!
- Tips Agar Bayi Betah Tengkurap
- Deteksi Dini Kehamilan Ektopik
- Obati Gagal Jantung Tanpa Operasi
- Obesitas Terus Ancam Anak-anak
- Minum Jus Setiap Hari, Sehatkah?
- Tips Cegah Penyakit di Musim Hujan
- Cegah Demam Berdarah dan Diare!
- Vitamin D Bantu Tangkal Flu dan Serangan Asma
- Konsumsi Buah & Sayur Tak Cegah Tubuh dari Kanker?
- Sembilan Makanan Usir Stres
- Kurangi Berat Badan, Tidur Saja!
- Minuman Soda Bisa Bunuh Sperma
- Cara Tepat Atasi Nyeri Haid
- Minum Soda, Membunuh Sperma
- Hindari Kopi Saat Malam
- Tips Anti Selingkuh Bagi Wanita
- Alasan Wanita Mengidap Emotional Eating JIKA dalam kondisi marah, apa yang ingin Anda lahap? Pasti
- ASI Bisa Sembuhkan Jerawat
- 5 Cara Pertajam Penglihatan Mata
- Besok, Senam Sehat Dimulai Pukul 06.00 Pagi
- Tips Atasi Keluhan Menstruasi
- Waspada Pakaian Dalam Ketat
- Waspadai Menopause pada Pria
- Stres Juga Ada Manfaatnya
- Tertawalah, Nafsu Makan pun Naik
- Diet Sehat dengan Buah
- Anak Obesitas Sering Diintimidasi di Sekolah
- 50 Tahun Revolusi Pil Antihamil
- Ingin Puas? Berkomunikasilah
- Ponsel dan Kanker Otak, Tak Ada Hubungannya
- ASI Cegah Obesitas Pada Bayi
- Kuatkan Daya Ingat
- Jangan Salah Duduk saat Bekerja
- 15 Jenis Makanan Penyebab Cepat Gemuk
- Aerobik yang Bermanfaat
- Televisi Bikin Tambah Stress
- Makanan Organik Tak Berefek
- Apa Itu Astigmatisma
- Penularan Meningitis Bisa Dicegah
- Tips Memilih Breakfast Cereal
- Vitamin B6 Kurangi Risiko Kanker Paru-paru
- Gejala
- Rokok Juga Sebabkan Kerusakan Otak
- 7 Cairan Alami Redakan Demam Berdarah
- Minum Jus Buah Picu Diabetes?
- Kenali Lebih Dini Gejala Menopause
- Anak Sakit Wajib Makan
- Ibu Hipertensi Boleh Menyusui
- Penggemar Viagra Berisiko Penyakit Kelamin
- Begadang, Wanita Rawan Stroke
- Tips Percepat Bakar Kalori dan Lemak
- Jangan Biarkan Jantung Meradang
- Mitas yang Salah Tentang Lemak
- Mengolah Makanan Sehat
- Tips untuk Penderita Rematik
- Lancarkan Puasa dengan Olahraga
- Puasa Mampu Cerdaskan Anak
- Penyakit Paling Aneh di Dunia
- Makanan Sehat, Usir Perut Buncit
- Obesitas, Lalu Bagaimana?
- Wanita Lebih Rentan Mengidap Tiroid
- Agar Payudara Sehat dan Indah
- Jahe Bisa Atasi Nyeri Otot
- Virus Flu Sebabkan Obesitas Pada Anak
- "Perangi" Pneumokokus Segera!
- Jangan Remehkan Gigi Sensitif
- Aduh, Kulit Bayiku Sensitif Sekali
- Vitamin Turunkan Risiko Penyakit Jantung
- Si Kecil Pakai Parfum, Amankah?
- Melindungi Anak dari Alergi
- Depresi dan Merokok Sama Mematikan
- Cabai Bisa Kurangi Risiko Kanker
- Waspadai Gejala Kanker Prostat
- Buang Air Kecil Terasa Begitu Menyiksa
- Kanker Payudara Mulai Serang Remaja
- Perangi Rasa Kantuk Tanpa Kafein
- Masalah Seks? Belum Tentu Testosteron Rendah
- Singkirkan Rasa Sakit di Leher!
- Jangan Kelupas Kulit Wajah Sendiri
- Waspada Bau Cat dan Debu Bagi Bumil
- Cara Mudah Turunkan Bobot Tubuh
- Bahaya Minuman Bersoda
- Strategi Melawan Stres
- Enam Kebiasaan yang Merusak Kulit
- Deteksi Dini Kanker Payudara di Rumah
- Deteksi Dini Kanker Payudara di Rumah
- Berhenti Minum Soda, Sekarang!
- Manfaat Gelang Power Balance Palsu
- Ancaman Kesuburan Intai Wanita!
- Trik Menghilangkan Selulit
- Tas Backpack Sebabkan Nyeri Punggung
- Kunci Wanita Tetap Tampil Fit
- Waspadai Serangan Jantung!
- Jauhkan Risiko Kanker Usus
- Yoga Bisa Tingkatkan Kesuburan?
- Jangan Sepelekan Gangguan Mata
- Ketika Diet Jadi Pilihan Buruk
- Saat Bising Mengganggu Jantung
- Awas Posisi Tidur Salah
- Kopi Tak Sebabkan Hipertensi
- Tidur Tengkurap, Wajah Mudah Keriput?
- Jangan Biarkan Migrain Datang
- Ganja, Bermanfaatkah ?
- Agar Badan Tetap Bugar di Kantor
- Bye-Bye Kaki Lecet
- Faktor yang Bikin Diet Berantakan
- Tidur Berlebihan Risiko Stroke
- Mata si Kecil Berkedip-kedip
- Gen Ibu Cerdas = Anak Cerdas
- Awet Muda dengan Tempe
- Menopause Prematur, Kenali dan Waspada!
- Diet untuk Gagal Ginjal
- Cara Atasi Sakit Kepala
- Bebas Jerawat dengan Masker Bawang Putih
- Tomat Efektif Turunkan Kolesterol
- Sering Pakai Ponsel, Pria Mandul ?
- Kunyah Apel Usir Napas Tak Sedap
- Hobi Minum Kopi Hambat Kehamilan
- Ingin Cepat Langsing dengan Jogging Mundur
- Bahaya Susah Buang Air Besar
- Berdamai dengan Asam Urat
- Agar Mata Sehat Terawat
- Tidur Cukup, Lawan Obesitas
- Anak Kurang Tidur Rentan Obesitas
- Jalan Cepat Cegah Kanker Prostat
- Waspadai Efek Buruk Lensa Kontak
- Cegah dan Merawat Rambut Bercabang
- Hindari Kanker Payudara dengan Vitamin D
- Obat yang Wajib Dibawa saat Travelling
- Jus Buah Segar Penangkal Stres
- Jangan Tertipu Sinyal Lapar
- Si Seksi Pembawa Petaka
- Bawang Putih, Pengusir Hipertensi
- Dampak Buruk Sering Minum Soda
- Diabetes Juga Intai Anak-Anak
- Sehat Tanpa Marah
- Selamat Tinggal Bau Kaki
- 7 Masalah Payudara dan Solusinya
- Menghindari Serangan Jantung
- Tiga Pisang Sehari Cegah Stroke
- Overprotektif Pada Kuman, Perlukah?
- Fakta dan Mitos Air Putih
- Fakta dan Mitos Air Putih
- Kurang Tidur Bikin Tubuh Gemuk
- Resep Ampuh Usir Obesitas
- Mencegah Alergi Debu
- Jurus Ampuh Atasi Bibir Pecah-pecah
- Dampak Buruk Stres Pada Ibu Hamil
- Sarapan Pagi ? Itu Penting
- Jurus Ampuh Atasi Bekas Jerawat
- Siklus Haid Pengaruhi Berat Badan
- Asap Rokok Picu Gangguan Pendengaran
- Tetap Fokus Turunkan Berat Badan
- Stres Saat Menyusui, Berdampak Buruk
- Hindari Lampu Kamar Terang Saat Bayi Tidur
- Makanan yang Bikin Sperma Sehat
- Bisa Kok Bugar di Kantor
- Bagaimana Kenyang Lebih Lama ?
- Berpuasa Bukan Berarti Tak Olahraga
- Kendalikan Diri Saat Berbuka
- Kulit Segar Saat Puasa
- Puasa Bersihkan Racun Tubuh
- Puasa Tak Kurangi Kualitas ASI
- Puasa Sehat bagi Penderita Dyspepsia
- Perlu Dihindari Bumil saat Sahur dan Buka
- Kanker Bukan Halangan Berpuasa
- Awas, Stres Bisa Picu Psoriasis
- Makanan Pedas dan Ibu Hamil
- Lima Cara Bebas dari Stretchmark
- 15 Menit Olahraga,Tambah Umur 3 Tahun
- Merawat Jerawat Bandel
- Tips cantik Saat Puasa
- Jadi Cantik Karena Ramadan
- Puasa dan Penyakit Jantung
- Camilan Manis Pemicu Kanker Rahim?
- Perlukah Diet Saat Puasa?
- Merawat Lensa Kontak
- Cantik Alami Tanpa Kosmetik
- Mengapa Rasa Lelah Sering Menyerang?
- Menghilangkan Tanda Penuaan
- Menghilangkan Tanda Penuaan
- Menghilangkan Tanda Penuaan
- Menghilangkan Tanda Penuaan
- Gagal Ginjal, Bagaimana Bisa?
- Ada Cara Baru Atasi Impoten
- Yoga Bantu Wanita Usir Stres
- Harapan Baru Pengidap TBC
- Orang Tua Protektif Picu Anak Kegemukan
- Mengenal Katarak
- Cara Alami Bikin Rambut Berkilau
- Sebelas Kiat Cegah Kanker
- Jangan Anggap Remeh Nyeri Pinggang
- Kurang Tidur Pengaruhi Prestasi Anak
- Stop Merokok Kurangi Sikap Temperamen
- Brokoli Sehat Bagi Jantung
- Bintik Kuning di Mata Tanda Penyakit Jantung
- Tetap Subur di Usia Menopause
- Jangan Panik Atasi Kolik
- Kenali Penyakit dari Kondisi Mulut
- Menguap Ternyata Menyehatkan
- Kenali Tanda Tak Beres pada Otak Bayi Anda
- Enam Tanda Daya Tahan Sedang Lemah
- Perhatikan Pemakaian Popok Bayi
- Bahan Makanan yang Membuat Ketagihan
- Pemicu Utama Rambut Wanita Jadi Rontok
- Bebas Beraktivitas Tanpa Nyeri Otot
- Kulit Bawang Bisa Kurangi Risiko Kanker dan Diabetes
- Gangguan Prostat Picu Pria Ngompol
- Jangan Sepelekan Kebersihan Organ Intim
- Diagnosa Dini Osteoporosis
- Stres Bisa Kurangi Daya Ingat
- Jangan Lagi Gagal Diet
- Bebas Stres dengan 4 Jurus
- Jaga Organ Intim Anda
- Makanan Pemutih Gigi
- Pemalu Tanda Fobia Sosial
- Masakan Indonesia Nomor Satu
| Februari - 2012 |
| M | S | S | R | K | J | S |
| | | | 1 | 2 | 3 | 4 |
| 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11 |
| 12 | 13 | 14 | 15 | 16 | 17 | 18 |
| 19 | 20 | 21 | 22 | 23 | 24 | 25 |
| 26 | 27 | 28 | 29 | | | |
| | | | | | | |
|