19-3-2010
Idap Disfungsi Ereksi Plus Penyakit Jantung Bisa Fatal

WASPADALAH kaum Adam yang mengidap penyakit jantung dan disfungsi ereksi. Kedua gangguan itu rentan serangan jantung, stroke, gagal jantung, dan berujung kematian. Kesimpulan itu diperoleh dari sebuah riset yang dipimpin Ketua Pengobatan Internal di Department of Cardiology and Intensive Care, Universitas Saarland di Jerman, Dr Michael Bohm. Dalam kesimpulannya, tim itu menyatakan perawatan penyakit kardiovaskular tak memiliki dampak terhadap disfungsi ereksi.
“Sebaliknya, disfungsi ereksi merupakan faktor risiko independen terhadap penyakit kardiovaskular,” demikian rilis studi itu, Rabu (17/3). Periset menemukan, pria dengan penyakit kardiovaskular yang memiliki disfungsi ereksi memiliki kemungkinan kematian yang disebabkan penyakit kardiovaskular 1,9 kali lebih tinggi. Kemudian kemungkinan dua kali lipat menderita serangan jantung, 1,2 kali untuk dirawat di rumah sakit karena gagal jantung, dan 1,1 kali lebih tinggi untuk menderita stroke.
Dalam riset yang akan dimuat dalam media kesehatan Circulation edisi 30 Maret mendatang, Bohm meneliti 1.519 pria dari seluruh dunia. Relawan diuji dalam dua bagian percobaan penyakit jantung, Ontarget dan Transcend. Relawan hanya mengikuti salah satu dari dua percobaan tersebut.
Para relawan dengan disfungsi ereksi ini akan digolongkan dalam beberapa tingkat penyakir. Ringan (mild), ringan-sedang (mild to moderate), sedang-berat (moderate to severe). Mereka juga akan mengisi kuisioner sebelum riset dan kembali melakukannya lima tahun kemudian. Dalam dua percobaan itu, selain penyakit kardiovaskular, 55% relawan juga memiliki disfungsi ereksi.
Dalam percobaan Ontarget, relawan secara acak akan dipilih untuk mengkonsumsi obat penurun tekanan darah. Antara lain ACE inhibitor ramipril (Altace) atau angiotensin II reseptor antagonis telmisartan (Micardis), atau kombinasi keduanya. Sementara dalam percobaan Transcend, pasien yang tidak bisa menerima ACE inhibitor diberikan Micardis atau obat placebo.
Hasilnya, pria dengan disfungsi ereksi lebih berpotensi mengalami tekanan darah tinggi, stroke, diabetes, dan pembedahan saluran kemih bagian bawah, jika dibandingkan dengan relawan yang tidak menderita disfungsi ereksi. Di antara penderita disfungsi, 11,3% meninggal karena berbabagi macam penyebab. Sedangkan penderita disfungsi ringan atau yang tidak mengidapnya, hanya 5,6%.
Selain itu, 16,2% pria dengan disfungsi ereksi meninggal karena masalah kardiovaskular, serangan jantung, stroke, atau dirawat karena gagal jantung. Untuk kategori sama, prosentasenya hanya 10,3% pada pria dengan disfungsi ereksi ringan atau tak mengidap gangguan tersebut.
Bohm mengatakan, pria seharusnya menyadari disfungsi ereksi, seperti tekanan darah tinggi dan kolesterol, merupakan faktor risiko terhadap penyakit kardiovaskular.
“Jika seorang pria mengidap disfungsi ereksi, ia harus datang ke ahlinya dan memeriksa apakah ada faktor risiko kardiovaskular lain,” ujarnya.
Senada dengan Bohm, asisten dosen pengobatan di University of Chicago Medical Center, Dr R Parker Ward mengatakan, riset ini merupakan bagian yang sangat penting. Bahwa disfungsi ereksi kini telah menjadi salah satu resiko yang berpotensi kematian dan ancaman penyakit kardiovaskular, serta penyakit jantung yang tak bergantung pada faktor risiko lainnya.
“Disfungsi ereksi juga menjadi gejala awal penyakit kardiovaskular,” kata Ward.
Ward menjelaskan, hasil studi mengatakan seluruh ahli kesehatan seharusnya menanyakan masalah disfungsi ereksi pada pasien yang memiliki risiko kardiovaskular. “Sangat penting untuk membuat pasien memahami hubungannya sehingga mereka bisa mendiskusikannya kepada ahli medis,” pungkasnya. (mor)