29-4-2010
Kurang Suka Lagu Berbau Cinta

MEILYA LIM, demikian nama lengkapnya. Remaja kelahiran Tarakan 4 April, 17 tahun silam ini, adalah peraih nilai absolut (10,00) untuk mata Ujian Nasional (UN) matematika tahun ini. Tidak itu saja, pasca UN, Memey (sapaan akrabnya) kemudian terpilih sebagai salah satu peserta pada Lomba Keterampilan Sekolah (LKS) di Samarinda dan hasilnya dia berhasil memberikan yang terbaik bagi Tarakan, juara 1 di ajang tersebut.
Tapi siapa sangka, remaja berkacamata yang mengaku sangat mengagumi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) ternyata tidak menyukai lagu-lagu dengan nama band-band besar, seperti Peterpan, Ungu, Nidji dan sebagainya. Dia malah lebih menyukai lagu-lagu yang bernuansa animasi yang biasa menjadi lagu pengiring film kartun. Dia beralasan, belum saatnya dia mengenal lagu-lagu yang berbau “cinta” karena dalam masa tumbuh menjadi remaja.
“Saya ngefans banget sama SBY, habis dia keren, berwibawa dan bijaksana. Jarang sekali lho presiden berpidato nggak pakai teks,” jelas Memey.
Kenapa suka dengan matematika? Menurutnya, pelajaran ilmu pasti ini penuh dengan permainan logika dan menantang, sehingga dirinya merasa tertantang untuk mencoba dan menyelesaikan soal-soal yang penuh dengan angka-angka tersebut. Diceritakan, ia mulai tertarik dengan matematika sejak duduk dibangku kelas 4 SD. Bermula di tingkat itulah dirinya kemudian lebih jauh mendalami soal-soal matematika.
Diceritakan Memey, dirinya termasuk kategori siswi yang malas belajar. Dia akan belajar sungguh-sungguh pada saat menjelang ujian saja. Apalagi dirumah, rumah olehnya dijadikan tempat curhat dan mengisi pekerjaan rumah (PR) saja, selebihnya fokus di sekolah saja.
Dia kemudian berbagi kiat-kiat agar pelajar bisa menyelesaikan soal-soal matematika yang disebut-sebut sebagai pelajaran yang paling susah. Disebutkan, sebelum mendekati ilmu logika ini harus dipastikan dulu bahwa pelajaran tersebut sangat disukai oleh siswa yang bersangkutan.
“Pastikan dulu dia suka dengan matematika. Kalau tidak suka, mana mungkin bisa. Sukai dulu. Kemudian jangan dihafal, tapi diulang-ulang dan dimengerti. Lalu jangan benci gurunya dan terakhir perhatikan guru kalau lagi menjelaskan,” jelasnya tersipu.
Namun saat ditanya langsung soal kemana dia akan melanjutkan kuliah setelah ini. Memey menuturkan, sebenarnya dia ingin sekali kuliah di Universitas Airlangga (Unair)-Surabaya, namun karena pendaftaran sudah melampaui waktu, makanya dia berniat meneruskan pendidikannya disalah satu universitas swasta di Surabaya, Universitas Katholik Widya Mandala jurusan akuntansi.
Belum lengkap semangat kuliahnya membumbung tinggi, sang ayah kemudian menjelaskan akan mempertimbangkan niat anaknya untuk kuliah. Alasannya, selain jauh, persoalan biayapun menjadi masalah utama.
“Tapi kita akan usahakan, masalah biaya sebenarnya menjadi kendala. Tapi semoga bisa tercapai, kami akan coba berusaha,” terang Ayah Memey, Salim Susanto.
Lalu kenapa mengambil jurusan akuntansi? Memey menjelaskan, awalnya dia tidak suka dengan akuntansi karena sangat intens bertemu dengan tabel dan pembukuan, tapi lama kelamaan malah suka dengan ilmu yang satu ini. Saking sukanya dengan pelajaran akuntansi, guru pelajaran ini pun menjadi guru favoritnya, Usman nama guru itu.
“Soalnya dia pintar sekali dalam masalah akuntansi,” tuturnya.
Meski demikian, kesukaan Memey dengan akuntansi malah tidak berlaku pada pelajaran seni. Pasalnya, pelajaran kesenian oleh Memey dianggap pelajaran yang paling bertolak belakang dengan minatnya, dia tidak bisa menggambar.
“Apalagi seni rupa, saya itu paling tidak bisa menggambar,” sebutnya.
Dalam prinsip hidupnya, Memey memegang teguh kejujuran. Sebab, menurutnya kejujuran adalah nomor satu dalam kehidupan. Sang ayah juga dianggap pemicu semangatnya. “Papa bilang, kalau mau menjadi orang yang berhasil jangan sombong atau tidak berteman dengan orang dibawah, bertemanlah kepada siapa saja. Papa itu juga humoris,” pungkasnya. (*/tan)