25-9-2010
Ditanya Apa Kaltara? Jawabnya Tidak Tahu

Saat Murid SD Larut dalam Penyambutan Anggota DPR RI
SULTAN PRADANA- Ada yang menarik dalam kunjungan anggota Komisi III DPR-RI kemarin (24/9). Bukan karena yang datang adalah orang penting atau Kaltara yang diyakini sudah diambang mata, tapi kesan lucu dari siswa setingkat sekolah dasar yang hampir luput dari liputan. Apa itu?
TERIK tanpa ampun menyengat kulit siapa saja yang tidak berteduh siang kemarin (23/9). Semula terkesan biasa saja, hilir mudik berbagai jenis kendaraan terlihat santai meskipun beberapa diantaranya masih ada yang sempat menyalib kendaraan lain, wajah mereka terlihat buru-buru. Pejalan kaki pun begitu, mereka berjalan seakan tidak mau tahu momen penting apa yang terjadi beberapa menit kedepan. Padahal sesuai agenda, sejarah perjuangan terbentuknya Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara) secara perlahan akan menuai hasil dengan kunjungan anggota Komisi II DPR-RI ke wilayah utara.
Namun ada yang lebih menarik dari rangkaian perjalanan anggota Komisi II DPR-RI tersebut. Masih segar diingatan, ribuan siswa-siswi belasan tahun dari berbagai sekolah tingkat dasar kemarin (24/9) berjajar rapi di sepanjang trotoar Jl. Yos Sudarso. Mereka bersorak sorai mendukung terbentuknya Kaltara, sembari menanti kedatangan para utusan negara tersebut.
Entah apa yang terpatri dalam benak mereka saat mengelu-elukan terbentuknya provinsi baru ini. Bentangan spanduk, kibaran bendera merah-putih kecil bahkan ada juga bendera berukuran jumbo, lantunan genderang yang mereka tabuh hingga berbagai jenis poster yang mereka warnai sendiri, tampaknya anak belasan tahun ini sangat tahu dan sangat menginginkan terbentuknya Kaltara.
Penasaran, penulis mendekati salah seorang siswa yang tampak semangat bersorak seakan persoalan Kaltara sudah menjadi santapan hariannya selama dibangku sekolah, Talib Husein namanya.
Saat ditanya kedatangan siapa yang mereka sambut, siswa kelas IV SDN 018 ini malu-malu menjawab, “Menyambut DPR,” itu saja yang keluar dari mulut polos Talib. Tak mau kalah dengan rekannya Talib, Asrul Taslim yang masih kelas III nyerocos keras, “Pak DPR pak,”. Ditanya, apa yang mereka lakukan jika bertemu dengan wakil rakyat tersebut, Asrul tambun yang kala itu memegang bendera merah-putih jumbo plus kacamata hitamnya pun langsung menanggapi dengan mimik lucu, “Kami mau minta salam sama mereka,” tandasnya enteng sambil terkekeh.
Kesan tingkah kanak-kanak mereka ternyata tidak sampai di situ saja, M. Firdaus yang juga kelas III SDN 018 saat ditanya apa itu Kaltara, langsung menggeleng dan meraih pundak rekannya yang lain untuk sembunyi lantas menjawab singkat, “Saya tidak tahu,” sembari tersenyum malu.
Kesan malu-malu Firdaus kecil sedikit terobati dengan jawaban menggairahkan dunia pendidikan dari bocah wanita bernama Nur Fadilah. Sambil mengingat-ingat ajaran sang guru sebelum turun kejalan, siswi kelas VI SDN 018 ini lantas menjawab, “Yang datang nanti anggota DPR-RI mau bentuk Kaltara, Kaltara itu Kalimantan Utara,” jawab Nur Fadilah bersemangat.
SDN 018 Tarakan saat itu memang menurunkan 300-an lebih siswa-siswinya yang duduk di kelas II hingga kelas VI. “Kami turunkan siswa sesuai dengan anjuran Dinas Pendidikan agar menurunkan siswa, kalau yang dekat-dekat rumahnya kita kasih turun juga untuk berbaris di pinggir jalan menyambut kedatangan anggota DPR-RI,” kata salah seorang guru SD 018, Sigit kepada awak media ini.
Tidak hanya SD 018, murid SD 011 dan sekolah lainnya juga tampak antusias mengibarkan bendera-bendera kecil mereka. Nova, guru salah satu bidang studi di SD 011 mengungkapkan, sebelum anak didik mereka diturunkan terlebih dahulu mereka diberikan arahan soal kedatangan angota legislatif yang akan membahas persoalan Kaltara. “Kami turunkan siswa kelas IV hingga kelas VI yang seluruhnya sekitar 140 siswa, sebelum turun kami sudah beri arahan kepada siswa soal kedatangan anggota DPR-RI ini,” ungkap ibu berparas ayu ini.
Tidak mau ketinggalan informasi dari anak-anak belia ini, penulis kemudian mendekati beberapa siswa sekedar bertanya apakah mereka tahu siapa yang mereka sambut dan apa itu Kaltara. Huda Mujafar Ali yang mewakili rekan-rekannya saat ditanya lantas menggelengkan kepala lantaran tidak tahu jawaban yang seharusnya ia jawab diikuti rekan-rekannya. “Tidak tahu,” jawabnya singkat.
Bahkan kakak tingkat mereka yang ikut larut dalam ceremony penyambutan anggota DPR-RI bersama rombongan SD 011 juga tidak tidak tahu momen apa sebenarnya yang mereka nanti. “Saya cuma lewat di sini, kami lihat ada rame-rame makanya kami singgah, katanya sih anggota DPR gitu, nggak taulah,” ujar siswi kelas III SMP 2 Tarakan, Indri Astuti.
Tambah penasaran, Radar Tarakan melanjutkan pencarian siswa yang benar-benar tahu maksud mereka dijajarkan di sepanjang jalan protokol yang dipadati kendaraan ini. Belum jauh meninggalkan ribuan anak yang masih terngiang kesan lucu dan lugunya, terdengar sirene pertanda rombongan yang dinanti-nanti di bawah terik tiba dan sorak sorai pun kembali membahana. Tak jauh dari lokasi Masjid Agung Al-Maarif, suara “Kaltara Yes!” menggema memekak telinga pengendara dan pejalan kaki yang mendengarnya, suara itu berasal dari ratusan siswa SDN Utama 2 Tarakan. Saat didekati, mereka begitu antusias bersuara, seakan Kaltara merupakan jalan terakhir agar permasalahan ekonomi perbatasan dan otonomi yang sulit segera teratasi dengan terbentuknya Kaltara dan sorakkan itu mereka dengungkan di sisi kendaraan pilihan rakyat yang melintas didepan mereka. Mungkin saja mereka berharap suara serak mereka terdengar. “Kaltara Yes! Kaltara Yes! Kaltara Yes!” begitu seterusnya, meskipun arak-arakan kendaraan orang penting itu sudah hilang dari pandangan.
Rian Ardian yang mewakili rekannya saat ditanyai siapa yang mereka soraki pun menjawab, “Anggota DPR mau anu Kaltara, Kaltara tidak tahu pak,” ujarnya terbata-bata lantas menghilang.
Sedikit berbeda dengan perlengkapan sekolah lainnya, SDN 028 tampak lebih siap dengan berbagai atribut poster mereka dengan berbagai tulisan dan warna yang dapat dimaknai mereka sangat paham siapa yang mereka sambut. Bahkan dalam poster mereka tercantum beragam tulisan berwarna yang menggambarkan keinginan anak seusia mereka, seperti “Kami siswa-siswi SDN 028 mendukung terbentuknya Kaltara, Selumit Pantai”, “Kaltara Yes, SDN 028 Selumit Pantai,” atau tulisan “Mari kita sukseskan Kaltara, Yes, SDN 028 Selumit Pantai”.
Tidak hanya poster mereka yang cukup unik, sorakan anak belia yang juga berbeda ini menambah suasana semakin riuh di sepanjang jalan. “Hidup Kaltara, Hidup,” dilanjutkan dengan “Kaltara, Yes!”
Tidak hanya beberapa siswa-siswi beragam keunikan di atas, tampak pula antusiasme dari siswa-siswi SDN 020 dan SDN 004 turut larut saat menyambut pembawa harapan mereka, anggota Komisi II DPR-RI.
Arak-arakan berlalu, ribuan bocah-bocah belasan tahun itu pun kembali ke sekolahnya masing-masing, yang tinggal hanya harapan mereka yang sangat menginginkan terbentuknya Kaltara, bukan nanti tapi segera. Meski harapan itu hanya tergambar lewat antusias mereka yang penuh keinginan, keinginan pendidikan di utara Kaltim harus dapat diatasi dan dinikmati seluruh kalangan. (***)