26-5-2011
Tetap Berhasrat Jadi Desainer

DUA tahun lalu, tepat setelah dinyatakan lulus dari Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Tarakan, Haslinda sempat dipusingkan untuk memutuskan kuliah atau kerja. Namun lantaran tuntutan ekonomi, impiannya menjadi desainer pun kandas. Karena semua tahu, di Tarakan tidak ada perguruan tinggi yang membuka perkuliahan sesuai bakatnya.
“Aku menjahit, makanya mau jadi desainer. Nah di Tarakan kan nggak ada tempat kuliah desainer, makanya berencana cari kuliah di luar Tarakan. Apalagi rata-rata penjahit di Tarakan itu laki-laki, jarang lho perempuan,” kata Linda, demikian wanita kelahiran 12 September 1990 itu kerap disapa.
Namun, faktor ekonomi tidak menyurutkan menyurutkan niat orangtuanya untuk meneruskan pendidikan anaknya. Sehingga dengan pertimbangan agar tidak jauh dari orang tua, Linda saat itu diarahkan kuliah di Universitas Borneo Tarakan. Bukan sebagai mahasiswa ahli desainer, melainkan sebagai calon guru bahasa Inggris di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan.
“Di mana ada kemauan di situ ada jalan. Kalau tidak bisa kuliah di luar, masak mau dipaksa, yang pasti-pasti saja. Selagi orangtua memberikan restu dan doa, kenapa tidak kita jalankan,” kata Linda penuh keyakinan.
Tak lupa, penyuka hang out dan ngemil ini mengaku sedikit bingung jika diberikan pilihan menjadi wanita karir atau menuntut ilmu setinggi-tingginya. “Pilih kedua-duanya, karena sama-sama penting. Bahkan pilihan itu bisa jalan barengan,” ujar penyuka jilbab ini.
Dia juga tak menampik jika suatu saat akan dihadapkan lagi pada pilihan menjadi seorang abdi negara. Apalagi setelah lulus kuliah, kemungkinan besar dirinya akan menjadi guru dan akhirnya menjadi pegawai negeri sipil.
“Mau juga sih jadi PNS, tapi kalau disuruh pilih, aku lebih cenderung ingin menjadi wanita karir. Alasannya klasik, PNS selalu terikat dengan waktu dan sudah ditentukan jam kerjanya,” katanya. “Kalau guru, pasti jadi pegawai dong dan sudah pasti bisa jadi desainer untuk sampingan saja,” lanjut cewek yang masih menjalani kuliahnya di semester IV.
Kendati begitu, niat menjadi desainer ternyata masih melekat di benak Linda. Meski kelak akan menjadi bagian dari pahlawan tanpa tanda jasa, niat memadukan pekerjaan tersebut menjadi rencana masa depannya.
“Kenapa tidak (jadi guru dan desainer, Red.), asal tidak mengganggu waktu keduanya, aku mau jalani dua-duanya. Waktu kosong pasti banyak, jadi bisa dilakukan,” kata Linda yang aktif di berbagai organisasi kepemudaan ini, salah satunya aktif di Satuan Pemuda dan Mahasiswa (Sapma) Pemuda Pancasila Tarakan. “Sekarang, aku jalani dulu, soal nanti mau jadi apa, semua itu punya Tuhan,” pungkasnya.(nat)