18-7-2011
Juara Jepen yang Tomboy

LAYAKNYA seorang perempuan, Nurhati selalu ingin tampil dengan sosok feminin. Apalagi sejak bekerja disalah satu instansi pemerintahan di Kabupatan Tana Tidung, awal tahun 2011. Dalam bekerja ia juga menggunakan busana lebih sopan dengan memakai kerudung. Padahal, dulu ia mengaku tampilan ini jauh berbeda saat masih duduk di bangku sekolah dan bekerja disalah satu perusahaan swasta di Tarakan. “Sejak kerja di pemerintahan di KTT saya mulai memakai jilbab,” ungkapnya.
Perubahan ini baru dijalani perempuan yang akrab disapa Cici ini. Sebelumnya, Cici dikenal sebagai sosok tomboy dikalangan teman-temannya. Dituturkannya, perilaku tomboy ini sejak ia duduk di bangku sekolah. “Sejak sekolah sudah dibilang tomboy,” ujar alumni SMKN 1 Tarakan ini sembari tertawa.
Semasa sekolah dulu, Cici bahkan sempat menekuni olahraga silat. “Banyak tantangannya aja sih main silat,” katanya. Selain mengandalkan fisik kuat, dalam silat kata dia, juga harus memiliki teknik yang bagus dalam menjaga pertahanan dan menyerang lawan. Dengan memiliki teknik bela diri, juga banyak manfaat yang dirasakan Cici, yang terpenting adalah mampu menjaga diri dalam pergaulan.
Sifat tomboy yang dimiliki perempuan kelahiran 6 Maret 1983 ini juga membawa pengaruh pada caranya berpakaian. Sejauh ini, koleksi busana yang dimilikinya justru lebih banyak casual. Seperti jeans atau celana panjang, kaos dan aksesoris lainnya. Karena sifat tomboy nya dulu, ia sempat kebingungan saat harus menghadiri resepsi pernikahan. “Sempat bingung karena tidak punya busana perempuan yang pantes buat ke kondangan, gaun juga nggak ada. Make up juga ga bisa, paling cuma pake bedak aja,” kisahnya seraya tertawa.
Pengalaman tak terlupakan juga pernah dialaminya pada awal tahun 2011 lalu, tepatnya saat perayaan satu tahun kepemimpinan Bupati dan Wakil Bupati Tana Tidung. Saat itu ia diminta untuk turut serta dalam lomba menari jepen. Merasa memiliki badan kaku dan tidak lentur yang biasa dimiliki seorang penari, ia pun menolak. Tapi karena “paksaan” dari pimpinan, Cici pun mengiyakan dengan.
“Padahal nggak bisa nari, tapi dipaksa ya sudah ikutin aja, sampai-sampai teman-teman bilang saya seperti tagas atau ulin yang keras karena tak bisa gerakin badan ikutin tarian. Tapi yang mengejutkan, akhirnya kelompok kami yang jadi juaranya,” ungkap perempuan yang memiliki hobi baru bermain gitar ini. (*/jnu)