|
Newsflash :
| ||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
Rubrik
Utama
Tarakan Ekonomi Nunukan Malinau Berau Kaltim Kriminal Bulungan Nasional Internasional Hiburan Olah Raga Politik Metro-Interaktif Kaltara Kolom
|
Serba-serbi
2-3-2010
Mengunjungi Sekretariat Kaltara Center di JakartaSewa Ruko Empat Lantai Persis di Depan Kantor Setneg ANTHON JOY NAHAMPUN-Beberapa waktu lalu, Radar Tarakan berkesempatan mengunjungi kantor Sekretariat Kaltara Center yang berada di Jl. Majapahit No.20 Blok B No.109 (lantai 2 dan 3), Jakarta. Bagaimana situasi di kantor tersebut? saat itu, waktu di Jakarta menunjukkan pukul 04.10 sore. Namun, langit-langit di ibu kota negara masih cerah. Sekira pukul tujuh malam, awam gelap di kota ini baru muncul. Cuaca mendung dan diselimuti hujan gerimis pada Rabu (24/2) itu, tidak menyuruti niat wartawan koran ini bersama rombongan FKKRT (Forum Komunikasi Ketua Rukun Tetangga) dan FKPM (forum kemitraan polisi masyarakat) mengunjungi sekretariat Kaltara Center. “Jalan Majapahit” yang ada di alamat kop surat. Hanya itu satu-satunya yang menjadi petunjuk kami untuk bisa sampai di sekretariat Kaltara Center. Memang sudah beberapa kali saya mengunjungi Jakarta, namun tidak semua jalan saya hafal. Satu-satunya pilihan agar tidak nyasar adalah dengan memanfaatkan mobil carteran yang sudah dilengkapi dengan driver yang notabene sudah hafal dengan ibukota Jakarta. “Ke jalan Majapahit pak,” kata saya dengan berlagak sok tahu. “Yang di Monas ya pak,” kata sopir itu. Waduh, dalam pikiran saya tidak bisa tergambarkan apakah Jalan Majapahit itu benar dekat Monas atau tidak. Berbekal keyakinan sejumlah pengurus FKKRT dan FKPM yang masih bersama saya sepulang dari Padang, Sumatera Barat, menyerahkan bantuan korban gempa, kami meyakinkan bahwa Jalan Majapahit itu dekat Monas. Sopir pun mulai membawa kami menuju lokasi yang dimaksud. Saking banyaknya jalur dan gedung bertingkat, saya sendiri sampai tidak bisa memastikan sudah berada di mana rombongan ini. Yang jelas kami lihat, di sebelah kiri jalan, kami sempat mengitari tugo Monas yang menjadi simbol ibu kota Jakarta itu. Beberapa ratus meter kemudian, di sebelah kanan jalan kami melewati Istana Negara yang kerap menjadi sasaran aksi demo. Tak lama kemudian (masih di kompleks Istana Negara) jelas di pandangan mata adalah kantor sekretariat negara. “Ini kantor sekretariat negara. Semua kegiatan presiden diatur di kantor ini,” kata sopir saat itu. Tanpa disadar, ternyata Jalan Majapahit yang hendak kami tuju itu berada tepat di depan kantor sekretariat negara di Jl. Veteran. Perlahan, mobil berjenis Kijang Innova yang kami tumpangi pun mulai mengambil jalur kiri sambil terus menelusuri dimana letak no.20 itu. Nomor pun makin mengecil, namun ketika melintasi deretan ruko yang berblok-blok, nomor di dinding rumah keburu menghilang. Yang muncul di depan kami hanyalah bangunan ruko bertingkat yang modelnya memanjang kedalam. Seiingat saya, ada empat blok yang jalurnya sempit-sempit. Rasanya hanya cukup untuk dua mobil. Kami pun berbelok ke kiri memasuki portal di kompleks ruko tersebut. “Selamat malam bapak, selamat datang di Komplek Perkantoran Majapahit Permai, Jakarta Pusat,” kata pria paruh baya yang bertugas memberikan karcis parkir masuk kompleks tersebut. Kami pun mulai memasuki kompleks tersebut. Hampir di setiap ruko, digunakan penyewa untuk dijadikan sebagai kantor sekretariat. Tidak hanya dari Jakarta, tapi ada juga dari beberapa sekretariat organisasi di Indonesia. Namun yang paling banyak menonjol ketika memasuki kompleks tersebut adalah kantor sekretariat kadin (kamar dagang dan industri). Pasalnya, ada beberapa ruko di situ yang digunakan untuk sekretariat kamar dagang dan industri (Kadin) dari beberapa daerah. Sambil bertanya, kami pun diarahkan untuk menuju ke blok kedua setelah berbelok kiri dari pintu masuk. Mata yang terus tertuju ke arah muka, akhirnya terhenti ketika melihat plang kecil berukuran sekira 1 x 50 meter yang melintang di dinding bertuliskan; Kalimantan Utara Center “Kaltara Center”. Awalnya kami sempat tidak percaya, apakah benar di ruko ini kantor sekretariat Kaltara Center? Hanya di sebuah ruko yang padat dan tidak banyak tampak orang melintas di sekitarnya. “Malam pak, benar ini Kaltara Center,” tanya HM Rusli H Jabba, ketua FKKRT kepada salah seorang pria berpakaian seragam hitam-hitam yang duduk santai di depan kantor tersebut. “Benar pak. Bapak-bapak ini darimana?” tanyanya balik. “Kami dari Tarakan pak, mau lihat-lihat Kaltara Center,” jawab Rusli balik. “Sebentar ya pak...,” jawab pria itu sambil terus masuk ke dalam kantor. Entah apa yang dilakukannya, kami pun menunggu di luar gedung sambil menunggu instruksi apa yang diberikan. “Silakan masuk pak, kebetulan ada pak Jusuf di atas,” jawab pria tadi. “Oh iya, wah kebetulan sekali,” jawab ketua RT lainnya yang ikut dalam rombongan. Kami pun diantar ke dalam. Tidak banyak cahaya matahari yang bisa masuk ke ruangan ini selain mengandalkan cahaya dari depan gedung. Maklum, di belakang gedung, masih ada gedung lainnya sehingga tertutup rapat dan tidak ada celah. Sementara ruko yang disewa ini, berada tepat di tengah-tengah gedung. Di lantai satu, tidak banyak yang bisa dijumpai. Hanya sebuah meja resepsionis yang tidak ada penghuninya. Memasuki lantai dua, tampak mulai ada bekas kegiatan disana. Tapi karena sudah menjelang malam, tidak ada satupun orang di kantor itu. Yang terlihat hanya tumpukan buku-buku, telepon kantor dan mesin fotokopi. Kami terus diarahkan ke lantai tiga. Disana, tidak banyak meja kursi. Hanya ada satu ruang yang disekat untuk front office. Ternyata di dalamnya, memang sudah didesign untuk ruang meeting. Tanpa diduga, sosok Jusuf SK mantan Wali Kota Tarakan itu muncul menyambut kami. “Wah, pak H Rusli Jabba toh. Saya kira pak Rusli yang dari Samarinda... mari-mari, silakan masuk,” kata Jusuf SK menyambut kami. “Kamu ikut juga Joy, ayo masuk,” kata Jusuf SK ketika melihat saya sambil menenteng kamera DSLR dan sebuah handphone Nokia E71. Kami pun diajak menuju ruang meeting. Di dalam ruang tersebut, ternyata ada beberapa tokoh politik yang tampaknya sedang melakukan pembicaraan khusus mengenai persiapan provinsi Kaltara. “Mari pak, silakan duduk,” sambut Ryass Rasyid, anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres). Selain Ryaas Rasyid, ada juga Totok Prabowo konsultan ahli dan Nursamsa Hadis -- mantan anggota DPD RI. Sepertinya, keempat tokoh politik ini memang sedang rapat serius. Namun karena mereka memandang kami adalah tamu jauh dari Kalimantan, kami pun diterima dengan tangan terbuka. “Mari, silakan apa yang ingin disampaikan,” kata Jusuf SK membuka pembicaraan. Semua pun mulai bersuara, terutama mendukung pembentukan provinsi Kaltara. Termasuk Ryaas Rasyid yang sempat memberi pandangan tentang dimana yang layak menjadi ibukota kelak. Tidak lama kami di sana, mungkin tidak sampai satu jam karena memang niat awal hanya sekadar mampir dan melihat-lihat. Namun karena secara tidak sengaja bertemu dengan Jusuf SK dan Ryass Rasyid, akhirnya ngobrol juga meski sampai pulang kami tidak disuguhi minuman penyegar tenggorokan.(*) |
Buku Tamu
Serba-serbi
|
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
Copyright @2010 Media Link Gedung Biru Jl Soekarno Hatta Km 3,5 Balikpapan 76126 Kalimantan Timur - Indonesia. Telp (0542) 735359-732158, Fax (0542) 735242. |
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||