20-3-2010
Warga Krasel Juga Eksodus ke Malaysia

NUNUKAN – Terjadinya eksodus masyarakat pedalaman dan perbatasan, seperti di Krayan dan Krayan Selatan (Krasel) ke Malaysia tak perlu dibantahkan lagi. Kenyataan tersebut juga diakui Wakil Ketua Komisi I DPRD Nunukan Marli Kamis.
“Kenyataan itu (eksodus) terutama di Kecamatan Krayan Selatan telah berlangsung sejak tahun 70-an, dan jumlahnya mencapai ribuan,” sebut politisi Demokrat asal Krayan Selatan ini.
Sebagai wakil rakyat, Marli sudah sekian lama merasa prihatin dan terus berupaya agar, kondisi ini bisa teratasi, tak hanya bergantung pada kemampuan daerah tapi juga peran pemerintah pusat.
Alasan warga Krayan Selatan, juga tak dipungkiri warga Krayan Induk, lantaran lebih mudah mendapatkan sembilan bahan pokok (Sembako), kebutuhan papan, dan berbagai jenis kebutuhan sehari-hari yang dibutuhkan masyarakat.
Dibanding harus ke Nunukan atau daerah lain di Kaltim, berbelanja, barter makanan, dan aktivitas lainnya ke negari Jiran tersebut jauh lebih efektif, mudah dan murah. Sebaliknya, berbelanja ke negeri sendiri sangat mahal, sulit, dan menjadi beban masyarakat. Satu-satunya sarana transportasi yang bisa digunakan adalah pesawat terbang.
“Tentu tidak semua warga Krayan Selatan mampu membayar ongkos transportasi hanya demi mendapatkan sembako dan kebutuhan lainnya di negeri sendiri. Itulah alasan mengapa bisa terjadi esksodus,” ungkapnya.
Marli Kamis menyesalkan upaya aparat Bea Cukai Tarakan yang belum lama ini melakukan penyegelan barang-barang kebutuhan pokok warga Krayan Selatan yang diperoleh dari Malaysia.
“Sesuai aturan memang itu ilegal, dan harus dipatuhi. Tapi, apa mau melihat masyarakat Krayan mati suri. Secara pelan-pelan ini salah satu cara untuk membunuh warga Krayan,” sesalnya.
Yang seharusnya dilakoni, sambungnya, pemerintah maupun aparat terkait mencari solusi, seperti melobi ke pusat, untuk mendapatkan kebijakan khusus bagi masyarakat pedalaman terkait ketergantungan kepada Malaysia.
“Pasalnya, ya seperti tadi, semua kebutuhan lebih muda didapat di negeri Malaysia daripada Indonesia. Sosek-Malindo bagimana? kan tidak ada. Selama ini hanya wilayah Sabah yakni Tawau-Nunukan dan Sebatik, sementara wilayah Krayan tidak mencakup Sosek-Malindo. “Ini yang mungkin perlu ditinjau kembali,” sarannya.
Diungkapkan, sudah lama berlangsungnya eksodus warga Krayan ke Malaysia, tak hanya lantaran mencari atau membeli kebutuhan pokok. Lebih dari itu, karena kesamaan kultur dan budaya antara warga Indonesia-Malaysia yang notabene sebagian besar berdomisili di sepanjang titik perbatasan adalah warga Indonesia juga. Bahkan, ada warga Indonesia yang memiliki IC atau semacam kartu penduduk Malaysia. Kondisi ini yang juga menarik penduduk Krayan lainnya untuk hijrah, terkadang sekadar menengok sanak keluarga yang sudah berpuluh-puluh tahun tinggal dan menjadi penduduk di Malaysia. (ica)